puisi kemerdekaan

puisi kemerdekaan

puisi kemerdekaan,puisi kemerdekaan pendek,puisi kemerdekaan chairil anwar,puisi perjuangan,puisi kemerdekaan indonesia pendek,puisi kemerdekaan malaysia,puisi kemerdekaan taufik ismail,puisi kemerdekaan yang menyentuh hati,puisi kemerdekaan a samad said

puisi kemerdekaan

puisi kemerdekaan,puisi kemerdekaan pendek,puisi kemerdekaan chairil anwar,puisi perjuangan,puisi kemerdekaan indonesia pendek,puisi kemerdekaan malaysia,puisi kemerdekaan taufik ismail,puisi kemerdekaan yang menyentuh hati,puisi kemerdekaan a samad said

puisi kemerdekaan

Terima kasih pahlawan
Karya: Rayhandi

" Karena jasamu kita merdeka
Hidup di ujung barat hingga timur
Tanpa takut dan gugup yang membara

Kau rela mati demi kami
Kau rela miskin demi kami
Kau rela menderita demi kami
Untuk kami kau rela hancur

Berkatmu indonesia bisa merdeka
Mengepak sayap melesat langit
Berkatmu indonesia bisa jaya
Menembus zaman hingga canggih

Tak terbayang jika keberanian itu tak tumbuh di hati kalian
Tak terbayang jika kesabaran itu takmenyertai derita kalian
Tak terbayang jika semangat itu tak membakar bara kalian.

Kami anak muda kami bangsa indonesia
Berterima kasih untuk jasa jasamu para pahlawan
Karena perjuangan yang luar biasa kalian
Indonesia bisa menikmati udara kemerdekaan."


Judul : MERDEKA INDONESIAKU
Oleh : Rodiyah Allahuan

Hari ini … tujuh belas Agustus
Indonesia memperingati hari lahirnya
Gema merdeka dikumandangkan
Dari segala penjuru negeri ini

71 tahun silam …
Indonesia dijajah oleh kaum penjajah
Banyak darah ditumpahkan, nyawa dikorbankan
Demi untuk satu kata MERDEKA

Kini … Indonesia telah merdeka
Rakyat dapat tersenyum bangga
Sang saka merah putih berkibar sempurna
Mengudara di angkasa raya

Jayalah Negeriku
Makmurlah bangsaku
Kau tetap Indonesiaku
MERDEKA..MERDEKA..MERDEKA

Judul : SAPTHADASAWARSA KITA MERDEKA
Oleh : Sangkuriang Pamungkas

Zamrud khatulistiwa semakin menua
Seiring kala, Sapthadasa usia nusantara
Sabang sampai merauke menggema merdeka
Miangas hingga rote berjajar selaksa pusaka

Sang dwi warna bertaburan dimana-mana
Samudera berkelir bias-bias candra aditya
Garuda gagah terbang tinggi ke angkasa
Siloka pancasila hantarkan jaya negeri tercinta

Tetap kukuh dengan Bhinneka tunggal ika
Kepalkan jari tanganmu, semangat empat lima
Tetap setia borneo bernafas untuk dunia
Bersama rimba-rimba lain di penjuru indonesia

Bangunlah! Bangun! Macan asiaku
Sehasra pulau telah menantimu
Tirta maritim siap menunggumu
Mengaumlah! Tunjukan pada dunia …
Terbangun sudah nusantara

Nyiur berbaris tegak hormati merah putih
Makmur sudah hidup hamba di surga bumi
Kelir-kelir merah di lima tanah mendarah-darah
Warni putih tumbuhkan selaksa muslim dalam semusim

Selaksa adat nan suku menyatu …
Menggetarkan bumi pertiwiku …
Demi mengenang soekarno-hatta
Yang menghantarkan negeri kita
Ke depan pintu gerbang kemerdekaan indonesia

Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Judul : M E R D E K A
Oleh : Mas Adji

kau sangka
merdeka tiba-tiba ada
merdeka bebas apa aja
merdeka itu bahagia
kau salah sangka

pingin merdeka
perjuangannya amat lama
doanya hingga berjuta-juta
tawakalnya sungguh tak terkira
setelah merdeka
Allah ditinggal begitu saja

sudah merdeka
bebas ngomong apa saja
bebas berbuat apa saja
bebas memilih agama
tak peduli orang lain menderita
merdeka ciptakan hukum rimba

orang merdeka
mana ada?
di desa terikat tata krama
di negara ada undang-undangnya
di dunia diikat syariat agama
di hutan belantara saja gak bisa
di surga baru bisa merdeka

Kemerdekaan ini
Karya: Rayhandi

" Kemerdekaan ini adalah usaha
Usaha tanpa menyerah para pahlawan

Kemerdekaan ini adalah keringat
Yang setia mencucur ruah hingga habis

Kemerdekaan ini adalah lelah
Lelah yang setia menghantu

Kemerdekaan ini adalah darah
Karena berjuta ton darah raib untuk kemerdekaan, tergadai

Kemerdekaan ini adalah nyawa
Karena di indonesia ini beratus ratus tahun silam nyawa melayang

Semuanya untuk indonesia
Semuanya untuk senyum anak indonesia
Semuanya untuk masa depan indonesia yang lebih cerah."



Puisi Kemerdekaan Indonesia

Sebilah Bambu Runcing
Karya : Rozat Rifai

" Hembusan nafas mulai memanas
tak kala para kompeni mulai menampakkan diri
Sebilah bambu jadi bomerangmu
menjadi senapan batin peraih kemerdekaanRasa lapar tak lagi ada
Ketika penjajah mulai memberontak
derasnya keringatmu menjadi bukti
perjuangan untuk berbakti
Pandangan Matamu terus tertuju
Seolah tak lepas dalam setiap detikmu
langkahmu adalah harapan
untuk meraih kemerdekaan

Darahmu terus mengucur dari bekas mata peluru
Namun kau terus maju tak kenal menyerah
Kini kau tertidur pulas dengan senyuman
tanda awal kemerdekaan yang hakiki

17 Agustus terus berjalan
terungkap kenangan dalam setiap nadimu
sebaris doa dan harapan
semoga jasamu kan kukenang selalu"



Berjuang Untuk Negeri

Hari ini, 71 tahun sudah negeri kita merdeka
Merdeka dari para penjajah yang selalu membuat sengsara rakyat
Pahlawan-pahlawan yang telah memerdekakan bangsa kita
Kini sudah banyak yang berguguran di medan perang

Itu perjuangan mereka
Saat belum merdeka
Lalu, apa perjuangan yang harus kita lakukan sekarang ?
Indonesia sudah tidak lagi menjalani perang seperti dulu
Indonesia sudah tidak lagi rakyatnya diinjak-injak bangsa lain
Indonesia sudah meredeka !

Bukan lagi perang yang harus kita lakukan
Bukan lagi penjajah yang harus kita hadapi sekarang
Namun, tekad dan usaha besar
Untuk membawa nama Indonesia
Mengaum di penjuru dunia
Dengan prestasi gemilang para anak bangsanya

Wahai para generasi muda bangsa ini
Sadarkah kalian bahwa Indonesia sedang ada dalam genggaman kita
Sadarkah kalian bahwa memang kita yang akan meneruskan kemerdekaan ini
Kapan lagi kita akan mulai berjuang kalau tidak sekarang
Jaya negeriku, dengan para generasi mudamu

Puisi Kemerdekaan Indonesia

Bukan begini negeriku dulu
Semua Penuh asap dan debu
Senapan mengeluarkan peluru
Dengan suara yang bergemuruh
Jeritan terdengar tanpa henti
Suara tangisan di seluruh penjuru bumi
Sungguh tak kuasa membayangkan hati ini
Jika ketika itu ku hadir bersaksi
Para pahlawan berjuang tanpa lelah
Berkorban tanpa keluh kesah
Iri hati ini terhadap mereka
Melihat semangat dalam dada
Kini …
Negeriku damai dan indah
Tangis berubah tawa
Jeritan berubah canda
Damai Indonesiaku
Pejuang pahlawanku

KEMERDEKAAN DI TANAH AIR

Arbak Othman
Selagi kita tidak dapat keluar dari gua hitam
Selagi itulah kita pengkhianat kemerdekaan
Tak siapa dan bukan siapa
Sesiapa sahaja yang melakukan.
Kemerdekaan di tanah air ini
Bukan pesta jembalang menari
Dan mengilai di pelabuhan retak, tapi
Landasan yang semestinya maruah dan keperibadian suci
Dan setiap pesongan jati diri yang unggul ini
Akan dicaci sehabis benci.


(Petikan sajak Kemerdekaan Di Tanah Air Ini: Ratib 1000 Syair Gapena, 2005)



Judul : Merdeka Tentang
Oleh : Tati Suryani

Kemerdekaan kini telah berubah haluan
Terjajah penjajah dalam kemiskinan ekonomi sosial budaya
Paha-paha liar terpamer modernisasi
Kebebasan jadi budaya hak asasi

Kakek pejuang meski tanpa bintang tanda jasa
Malam-malam mengintai di sepi semak belukar
Meraut bambu hingga runcing
Memasang jebakan hingga musuh datang terpancing

Kemerdekaan gaung kembali di tiang bendera
Kobarkan semangat jiwa raga
Anak-anak sekolah giat berlatih upacara bendera
Anakku yang kecil jadi ikut euforia

Kita takkan jatuh hanya karena mafia
Kita takkan berpisah hanya karena tolikara
Kita adalah bhineka tunggal ika
Karena kita adalah Indonesia

Judul : TANYA ARTI MERDEKA
Oleh : Lilik Puji Lestari

Ratap tangis tengadahkan wajah
Mernepa beribu pintu kalbu
Di bawah atap bangsa makmur
Busung perut bernyanyi sedih

Terbaring di kelamnya langit
Dingin terbiasa menyelimuti raga
Hanya mimpi yang ada
Berharap esok mimpi menjadi nyata

Berbaris rapi kala mentari terik
Berharap sejumput beras berkutu
Akan dapat lanjutkan hidup
Harapan basi yang tak terdengar

Timbunan makmur hanya tertatap
Tanpa dapat termiliki rakyat
Masa depan kian tersamar
Kala serakah menjadi raja

Makmur hanya untuk segelintir insan
Merdeka hanya lukisan Ibu Pertiwi
Hanya untuk di lihat tanpa merasakan
Lalu apa arti merdeka bagi jelatah..??




Judul : MERDEKA
Oleh : Chandra Adi

Apa itu merdeka..
Apa merdeka sekedar bebas dari penjajahan..
Apa merdeka sekedar pembuatan pancasila..
Apa merdeka sekedar motto bineka tungga ika..
Apa merdeka sekedar pembacaan proklamasi..
Apa merdeka sekedar upacara peringgatan..
Apa merdeka sekadar perayaan..
Lalu baagaimana dengan veteran perang..
Mereka hidup di bawah kolong jembatan…
Bagaimana dengan pehlawan devisa negara..
Mereka mati di tiang gantung..
Bagaimana dengan orang di perbatasan..
Mereka hidup di tengah” kekuranggan..
Bagaimana dengan pribuminya..
Mereka mayoritas miskin..
Bagaimana dengan masyarakan perkotaan..
Mereka hidup dengan kesengjangan..
Bagaimana dengan koruptor..
Mereka hidup bebas diluar sana..
Bagaimana dengan penerus bangsa..
Mereka overdosis miras dan narkoba..
Apa negeri seperti itu layak dikatakan merdeka..
Entahlah…

Judul : BERKATA MERDEKA
Oleh : Shifu Nangklanan

Melebur bersama dua ratus juta rakyat Indonesia
Aku dengar di mana-mana
Seolah bangsa ini baru saja memenangkan sebuah perang
Aku membaca api-api
Yang terkadang aku menangis
Terkadang juga aku tertawa

Berkata merdeka
Bangsaku digilas abad
Harapan mengudara
Dijemput oleh peri-peri langit
Namun ketika mereka melihat urat hijau badannya
Mereka pun bersetubuh di atas ketuban ranjang nenek moyangnya
Enam sembilan
Kaki di kepala, kepala di kaki
Saling mencari nikmat dari setiap badan yang ia jumpai
Tajam dan tumpul
Asa-asa
Saling cabul
Bual mebual

Berkata merdeka
Bangsaku yang malang
Kini haruslah merdeka dari merdeka
Jangan menjadi pelacur di atas darah
Kelak siapa Ibu dari seribu janji yang bunting
Enam sembilan ditukar jadi kado
Radio suara suara yang mendesah
Inikah merdeka?
Kebebasan yang kau agung-agungkan itu?!
Bangsaku air mata bahari
Sisa nyiur rayuan kelapa

Berkata merdeka
Dari Sabang sampai Merauke
Apa yang termaktub dalam proklamasi?
Sudahkah dieja mulut senapannya?
Dasar kemerdekaan yang mana?
Dari mata garuda yang hatinya telah terluka
Enam sembilan selalu nikmat
Sehingga kita perlu membaca, bukan sekedar melihat
Ibu pertiwi,
Merah putih.
Kami ingin merdeka
Merdeka!
Dan medeka!
Jika aku tertikam dia merasa darah
Dan jika dia dipeluru
Jiwa raga untuk negeri.

AGUSTUSAN; SUDAHKAH KITA BENAR-BENAR MERDEKA?

Ochi Rosdian 
17 Agustus 1945
Tercatat dalam lembar sejarah
Tangan-tangan gagah menekan-mundur penjajah
Berakhirlah pertumpahan darah

Golok dan keris kembali bersarung
Bambu runcing lelah terjaga, terbenam dalam dekapan bumi
Khidmat berhymne pada janji kemerdekaan;
Proklamasi.

Agustusan, selanjutnya kami menyebut begitu
Dusun dan kota bersolek nuansa merah putih
Di tanah lapang, pasukan berbaris tunaikan pengabdian
Bendera berkibar
Nasionalisme berkobar

Agustusan, nyatanya sekedar seremonial
Masa keemasan lama memudar
Berkurang nilai sudah tentu turun harga
Di senayan, Tuan dan Nyonya berdasi sikut kanan-kiri berebut kursi
Di jalanan, tunas-tunas bangsa mencekik leher Vodka, larut dalam euforia gengsi
Di kala malam, pegadaian harga diri mengobral penawaran pada Si hidung belang
Katanya sih demi sepotong roti atau entah sebungkus nasi

Pertiwi ... maaf bila kami terlupa
Sudah berapa lama Indonesia merdeka?
Kita tidak dijajah, nyatanya terjajah
Lawan! Bisikmu di keheningan
Bukan golok dan keris yang harus kau hunus
Penjajah menyusup lewat pemikiran
Bebaskan jiwa dari belenggu pembodohan
Itulah musuh nyata bagimu, Negeri.
Salam merah putih. Merdeka!


Bandung, 14 Agustus 2014



Judul : KIBARKAN SANG SAKA
Oleh : Sangkuriang Pamungkas

Merdeka membahana di angkasa nusa
Gagah perkasa garuda memekik merdeka
Pagi ini aditya hangatkan bumi nusantara
Langit mengharu biru menatap sang saka

Jemari mendekat begitu rekat di ujung alis
Seraya indonesia raya terlantun, kumeringis
Sang saka berkibar melambai tertiup angin
Perlahan menggapai puncak tiang tertinggi

Perih hati tersayat masa lalu
Semasa devide et impera berlaku
Zoon coen memeras sejuta jiwa kawanku
Bala kulit kuning nan kulit putih beradu

Cukup dengan masa lalu yang kelam
Mari bersama kubur kisah yang legam
Menyongsong bayu pertiwi yang segar
Kuatkan tekad tuk maju nan tegar

Di bebukit yang curam nan terjal
Berusaha kudaki sehabis nafas tenaga
Demi kibarkan merah putih tercinta
Ditatap langit nan angkasa raya

Di atas puncak tertinggi tercium sudah …
Semangat merdeka terlantun lantang
Urat di gala keluar, seraya teriak merdeka
Jemari kokoh mencengkram sang saka

Kami adalah tunas bambu keberanian baru
Untuk berjuang demi jaya indonesiaku
Telah tiba kala sejuta kuncup bunga muda
Hantarkan negeri mengaum bak macan asia

Terimakasih kami wahai dwi tunggal tercinta
Setinggi jaya wijaya jasa-jasa dikala derita
Syukur tak henti mengalir pada sang pelipur
Atas pembuka kebebasan nusantara perwira kami …
Soekarno-Hatta …
Khazanah yang takkan terganti

Contoh Puisi Kemerdekaan Singkat Dan Pendek
Judul : INDONESIA MERDEKA
Oleh : Gabriel Kim

Indonesia!
Negaramu nadiku
Demi darjat dijulang dunia
Oleh ombak-ombak obor
Nyalakan nyawaku
Engkaulah episod epikku
Sentiasa segar
Istimewanya impian ini
Akan akhiri air atmaku

Marilah menggapai merdeka
Ertikan episod
Rezekikanlah rakyat
Damaikanlah demokrasi
Eratkan esok
Kemakmuran kebebasan
Agar auranya abadi agung.



Contoh Puisi Kemerdekaan Terbaru 2016
Judul : Sudahkah Merdeka?
Oleh : Dhedi R Ghazali

71 tahun sudah berlalu, ketika bambu-bambu runcing itu mengurai usus-usus para penjajah
71 tahun sudah berlalu, saat merah-putih berkibar di langit nusantara bercengkrama dengan kepakan sayap sang garuda
71 tahun sudah berlalu, saat bunga-bunga pahlawan melayu di bawah taman merah
71 tahun sudah berlalu, saat lagu Indonesia Raya memecah keheningan jiwa-jiwa terromusha
sudahkah merdeka?

Jutaan orang terlunta di zamrud khatulistiwa,
bocah-bocah berlumur keluh-kesah berbalut fana sebuah bungah, tak sekolah!
darah-darah dihisap lewat pajak, tubuh-tubuh diinjak oleh subsidi yang mulai berontak
APBN membengkak, siap untuk meledak
menghancurkan tubuh-tubuh para fukara yang diborgol oleh tangan-tangan kuasa

belatung riang mengerumuni bangkai-bangkai yang bergelimpangan
tikus-tikus berpesta di atas ranjang keadilan yang tak lagi mudah didapatkan

Sudahkah merdeka?
entahlah, cari sendiri saja jawabnya

RINDU KEMERDEKAAN SEJATI

Meliana Levina Prasetyo

Berabad-abad silam tanah persada berada dalam cengkeraman para raja tamak dari tanah barat
Mereka merebut warisan kekayaan alam Nusantara sejak dulu kala
Mereka ingin memiliki tanah persada seutuhnya serta menjadi raja di tanah asing
Mereka telah menyisakan berbagai goresan luka dalam kalbu setiap anak negeri

Hingga muncul para pendekar bangsa berjuang gigih sehidup semati demi kebebasan ibu pertiwi
Mereka gigih di tengah-tengah medan laga yang ganas tak berperasaan
Sampai tinggal nama pun mereka tidak berhenti berseru
Perjuangan mereka bagai rantai kehidupan tanpa batasan

Setelah ibu pertiwi bebas dari cengkeraman para raja loba
Raja negeri Kincir Angin masih ingin terus mencengkeram tanah persada
Namun akhirnya putera-puteri pertiwi menang bestari
Mereka dengan bangga membangun bahtera di tanah air sendiri

Namun apakah insan pertiwi telah merasakan kemerdekaan sejati?
Meskipun lahir merdeka namun batin masih terancam
Berbagai bisul perpecahan bangsa dan virus mematikan dari negeri seberang semakin menusuk kalbu
Ayo bangkitlah anak negeri bawalah bangsa ini menuju padang bakti mulia gemilang



MERAH PUTIHKU
Manshuri Yusuf 
Masih terhitung dalam rekam jiwa
Atas semangat empat lima
Menyejarah nusantara
Mengukirkan tinta emas pada negeri cincin api

Kutatap lambaian lunglaimu
Bersimbah darah
Perlahan, para begundal khianat
Mencabut kilatan pedang, melumat

Apakah kau telah lelah berkibar?
Setelah nikmati euforia orde lama
Terlena dalam orde baru,
hingga tertatih dalam reformasi

Ahh, merah putihku
Berbaringlah barang sejenak mata
Lepaskanlah jubah lelahmu
Nusantara telah menanti lambaian teduhmu

Kandangan, 8 Agustus 2014 

Judul : Tentang Hukum
Oleh : Anarchia58

Jika oknum aparat melakukan genosida
Apakah mereka bersalah?
Apakah mereka akan dianggap teroris juga?

Jika ada organisasi melakukan propaganda
Apakah mereka ingin menjajah?
Apakah mereka mencari keadilan?

Katanya negara ini sudah merdeka
Sudah lepas dari belenggu penjajahan
Tapi mengapa menyuarakan keadilan dianggap subversif?
Dan ingin berdiskusi tapi dihadang moncong senjata?

Tentang hukum negara ini
Polemik keadilan para penghuni negeri
Apakah negara ini sudah merdeka?
Atau kembali dijajah oleh oknum penguasa?

Aku ingin hukum diperbaiki
Mari bercermin bersama sambil diskusi
Memperbaiki hal yang salah tanpa kekerasan lagi

Judul : 71 TAHUN INDONESIA MERDEKA
oleh : Harry Melly

Tujuh puluh satu tahun
Bangsa Indonesia merdeka
Mari kita membangun
Negeri kita tercinta

Singsingkan lengan baju
Giatlah belajar dan bekerja
Raih dan ukirlah prestasimu
Harumkan nama bangsa

Jauhkanlah diri dari narkoba
Korupsi, tawuran dan hal-hal merugikan
Yang dapat merusak cita-cita bangsa

Hargailah jasa pahlawan kita
Yang telah gugur berjuang
Demi Indonesia merdeka

Judul : MIMPI RAKYAT INDONESIA
Oleh : Harry Melly

Aku tak bermimpi jadi presiden
Ataupun jadi wakil presiden
Aku hanya ingin menjadi rakyat Indonesia
Yang dapat menikmati arti merdeka

Aku tak bermimpi jadi menteri
Ataupun jadi wakil rakyat
Aku hanya ingin korupsi
Diberantas tuntas agar tak merugikan rakyat

Aku adalah rakyat Indonesia
Punya mimpi untuk Indonesia
Agar Indonesia tak jadi negara pengimpor
Tapi jadi negara pengekspor

Aku punya mimpi untuk Indonesia
Menjadi negara yang aman dan sentosa
Menjadi negara yang maju dan kaya
Dan tidak lagi berhutang pada negara tetangga

Contoh Puisi Pendek Tentang Kemerdekaan
Judul : KITA MERDEKA!
Oleh : Sangkuriang Pamungkas

Weltevreden jadi saksi
Sebuah sumpah deklarasi
Diikrarkan pemuda pemudi
Gerakan kepanduan sejak dini

Indonesia raya kembali membahana
Mengantar ikrar pemuda indonesia
Demi tegaskan cita-cita bangsa
Menuju makmur nan sejahtera

Tumpah darahku, tanah Indonesia
Tempatku dibuai dibesarkan bunda
Bahagia hamba di tanah yang merdeka
Kehendak-Nya kuhadir di surga dunia

Bangsaku, bangsa Indonesia
Banyak tumbuh selaksa budaya
Kerap mewangikan nusantara
Bertepuk tangan jagat raya

Bahasaku, bahasa Indonesia
Terkenal sampai penjuru nusa
Sastra menghiasi ibu pertiwi



MERDEKA TAK SEKEDAR NAMA
Nining Amalia
Namun, apa kabar merdekaku?
Apakah kedaulatan masih dalam genggamanmu?
Harapku tak hanya tinggal nama
Inginku tak hanya sekedar perayaan

Perang fisik berlalu menyisahkan kemerdekaan kita
Menghadapinya bukan main semangat juangnya
Tak mungkin diraih jika mereka…
Tak mencintai bangsa tempat pijakan

Kini perang pemikiran tengah menjajah
Masihkan merdeka bisa kita raih?
Ah, tak mungkin rasanya jika kalian…
Para penerus bangsa terbawa arus begitu saja

Beranjaklah pergi dari pemikiran pragmatis
Berlalulah dari gaya hidup hedonis
Berontaklah dengan sikap individualis
Singkirkan kerikil penghalang kemerdekaan utuh bangsa

Tenang saja negara pijakanku, Indonesia
Cinta akan memerdekakanmu kembali, utuh
Tak ada lagi merdeka sekedar nama
Kami siap memerdekakanmu dari segala bentuk penjajahan


Makassar, 06 Agustus 2014


Judul : Kemerdekaan?
Oleh : Fantasmi Multipli

Proklamasi sudah sedari dulu
Menggaung merdu ke semua penjuru
Euforia bertalu-talu

Negara sudah merdeka
Penjajah kembali ke asalnya
Membawa dendam beserta dirinya
Mengatur siasat kembali ke Indonesia

Modernisasi
Itulah rencana mereka kini
Banyak yang menyalahkan arti
Hingga tenggelam budaya bangsa ini

Dulu para pejuang membawa senjata
Bambu runcing dan sejenisnya
Darah bertumpah ruah
Menyebarkan duka dan lara

Kemerdekaan telah diraih mereka
Namun generasi selanjutnya menyia-nyiakannya
Tak ada lagi perjuangan
Hanya peringatan yang menjerumus ke kemaksiatan

Benarkah negara sudah merdeka?
Walau rakyat harus meminta-minta demi sesuap nasi untuknya
Walau anak-anak harus membanting tulang saat seharusnya ia tertawa
Walau para wanita disiksa dan teraniaya oleh sekitarnya

Pemuda mulai meragukannya

Judul : MERDEKAKAH KITA
Oleh : Derry S. Muhalim

Sudah merdeka atau sudah bebas kita dari penjajah?
Tetapi kenapa masih ada anak-anak yang teraniaya
Anak tiri apalagi anak sendiri
Bahkan sampai mencium tanah dan kaku membusuk

Manusia dijual belikan seperti mainan
Mainan dibeli diobralan
Dibudaki uang, nafsu-nafsu wanita otak bejat
Siapa tak produksi dan membantah dibikin mati

Merdekakah kita …?
Ada berita, disana-sana masih ada orang memakan nasi aking
Orang yang duduk dibelakang meja asyik membaca koran
Beritanya dilewatkan, ah … abaikan saja katanya

Merdeka atau mati?
Sekarang berubah konotasi
Yang merdeka, yang sukses jadi dewan berdasi
Yang mati, yang miskin tak punya nama dan peti mati

Merdeka … jadi simbol lomba-lomba
Merdeka … dimeriahkan lalu dilupakan
Dirayakan tetapi bangsa belum raya

Ah … sudahlah! Pusing jadinya
Diri ini juga belum merdeka
Merdeka lepas dari kesengsaraan

Kumpulan Contoh Puisi Kemerdekaan Bangsa Indonesia
Masih kurang contoh puisi kemerdekaan diatas ? Bawah masih banyak lagi referensi contoh puisi kemerdekaan yang didapatkan dari berbagai sumber.


Berjuang Untuk Negeri

Hari ini, 71 tahun sudah negeri kita merdeka
Merdeka dari para penjajah yang selalu membuat sengsara rakyat
Pahlawan-pahlawan yang telah memerdekakan bangsa kita
Kini sudah banyak yang berguguran di medan perang

Itu perjuangan mereka
Saat belum merdeka
Lalu, apa perjuangan yang harus kita lakukan sekarang ?
Indonesia sudah tidak lagi menjalani perang seperti dulu
Indonesia sudah tidak lagi rakyatnya diinjak-injak bangsa lain
Indonesia sudah meredeka !

Bukan lagi perang yang harus kita lakukan
Bukan lagi penjajah yang harus kita hadapi sekarang
Namun, tekad dan usaha besar
Untuk membawa nama Indonesia
Mengaum di penjuru dunia
Dengan prestasi gemilang para anak bangsanya

Wahai para generasi muda bangsa ini
Sadarkah kalian bahwa Indonesia sedang ada dalam genggaman kita
Sadarkah kalian bahwa memang kita yang akan meneruskan kemerdekaan ini
Kapan lagi kita akan mulai berjuang kalau tidak sekarang
Jaya negeriku, dengan para generasi mudamu

Kumpulan Contoh Puisi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 Terbaru Tahun 2016
Judul : Merdeka Dalam Euphoria
Oleh: Nyi Parah

Tuan berlomba panjat pinang
Sikut kiri, tendang kanan
Kawan bertanduk menjadi lawan
Sahabat dekat suguhkan khianat

Tuan berlomba panjat pinang
Sikut kiri tendang kanan
Taring tersembul di balik topeng pencitraan
Demi sebuah kekuasaan

Bila Tuan berlomba panjat pinang
Kursinya njomplang
Kawula tunggang langgang
Emas berlian pun melayang
Ikut plesiran ke tanah sebrang: lupa pulang.
Judul : Untuk Sang Presiden
Oleh : Asyifa Fakhirah Shakilla

Cakrawala di langit ke-16 sudah menulis takdir
Panjang bambu-bambu pun sudah mengukir
Ini sebuah sejarah dari sang proklamator
Kenapa harus ternoda oleh si koruptor?

Lihat kawanku diseberang kali
Mereka menangis untuk sebuah nasi
Meski sesuap, syukur akan mengalir dihati

Hari tujuh belas telah pergi
Enam puluh tahun lebih kita berjalan
Kau sadar itu, Pak Presiden?
Perubahan macam ini yang tertuang di kitabmu?

Judul : Racauan Tentara Sekarat
Oleh : Rafi Izam

Tenggorokanku meradang kering
Air pun tak sanggup meredakan tenggorokan
Bahkan oleh air hangat dari saring
Aku ingin berdiri tegap seperti masa penjajahan

Malaikat Izrail kian mengetuk jendela secara stagnan
Itu bukan pendengaranku yang salah
Ingin kukobarkan lagi semangat pemuda sekarang
Meskipun tangan kokoh yang dulu memegang senjata kian melemah

Mataku berair membuncah air mata
Ketika melihat tanah air kubela dulu
Tanah yang kaya akan rempah rempah dan gunung permata
Semuanya menjadi memudar dan sia sia

Muda dulu, kuisi dengan perjuangan dan rela ditembak
Aku dan temanku berjuang seolah memiliki banyak nyawa
Setiap malam, aku melantunkan Alam Nasyrah
Agar dilapangkan perang kami

Yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah
Saat perang, temanku menahan darah pada mulutnya
Dia mati muda membela tanah air
Tanah air dengan rempah rempahnya

Kini, aku sekarat dengan penyakit tua
Giliran kalian memegang lilin yang kupegang dengan ruai
Lilin yang menyinarkan bangsa tua ini
Jadikan lilin itu seterang matahari

Biarlah kalian tak punya teman
Asalkan dia hendak menghancukan bangsamu sendiri
Saudara adalah orang yang meludahimu saat kalian mengalami distorsi
Kita semua adalah saudara

Pemuda pemudi sekarang memang beruntung
Kalian tidak menyimpan pistol daripada ponsel pintar di laci
Biar tidak menjadi korban agresi militer
Kalian hanya melanjutkan perjuangan ini selama kami pergi

Judul : Sudahkah Merdeka?
Oleh : Aslan Yakuza

Indonesia, bukan terpecah, hanya terpisah antar pulaunya
dirangkum menjadi negara
Indonesia, merdeka di tahun 1945
bebas dari penjajah, rakyatnya masih sengsara
sudahkah merdeka?

Indonesia, kaya tanahnya, berlimpah budaya, semua katanya
Indonesi, dijajah isinya, melarat jadinya
sudahkah merdeka?

Indonesia, perlahan benamkan budaya
tersisih pribuminya, kenyang pendatangnya
sudahkah merdeka?

Contoh Puisi Kemerdekaan 17 Agustusan
Judul : Di manakah Kemerdekaan?
Olehleh : Agatha Vonilia

Proklamasi!
Proklamasi!
Proklamasi dikumandangkan
Genderang kemerdekaan bertalu-talu di seluruh penjuru negeri

Tangisan kebahagiaan
Pelukan-pelukan hangat
Membanjiri seluruh sudut kota
Bahkan semangat pun berkobar

17 Agustus 1945
Hingar-bingar merajai pelosok-pelosok negeri
17 Agustus 2015
Kemerdekaan luluh lantak

Keadilan perlu dipertanyakan
Kemiskinan semakin merajalela
Pendidikan milik para pejabat
Kesejahteraan hanya ilusi belaka

Di manakah Kemerdekaan?

Bergolak Darah Semangat Para Pejuang
Tanah Airku Indonesia
Tempat Kaki ku Berpijak
Tempat Jasad ku Tertanam
Tempat Hidupnya Jasa Para Pahlawan
Tanah Air ku Indonesia
Negeri ku Bukan Hadiah Para Penjajah
Negeriku Hasil Jerih Payah
Pengorbanan dan Perjuangan Para Pahlawan
Dengan Ombak darah di Lautan
Ku Runcingkan Bambu Tuk Hapuskan Penjajahan
Berpeluru Tekad dan Harapan Para Pahlawan
Wahai Anak Cucu di Masa Depan
Hargailah Arti Dari Kemerdekaan
Karena Perjuangan Melawan Penjajahan
Tidaklah Semudah Balikan Telapak Tangan.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : puisi kemerdekaan

0 komentar:

Posting Komentar